Di suatu desa ada seorang anak yang bernama Prajna. Ia tinggal bersama kedua
orang tuanya. Prajna merupakan siswa sekolah dasar. Prajna tergolong anak yang rajin
belajar. Ia memahami bahwa ia harus rajin belajar, sehingga di
kemudian hari cita-citanya dapat tercapai.
Setiap hari Minggu, ia rajin pergi ke Vihara untuk beribadah
dan melaksanakan sekolah Minggu. Sekolah Minggunya
bernama Sekolah Minggu Buddhis Cipta Sarana Budhi. Ia pergi
ke Vihara dengan berjalan kaki walaupun, untuk mencapai
Vihara ia harus melewati pematang sawah. Bukan hanya
Prajna, tetapi hampir seluruh siswa sekolah Minggu paham
arti penting ke Vihara dan melaksanakan sekolah Minggu.
Semua siswa mengetahui bahwa Buddha telah
meninggalkan warisan yang sangat berharga. Buddha
sangatlah kaya.
π Menanya
Setelah amati
video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang Prajna Anak Yang Rajin dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas!
π Mengumpulkan Data Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
π Mengolah Data
Ayo
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
π Menalar
Ayo,
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat
yang jelas.
π Mengkomunikasikan Ayo, ceritakan Prajna Anak Yang Rajin yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu! Sampaikan pendapatmu: 1. Apa yang menarik perhatianmu? 2. Apa yang kamu lihat? 3. Apa yang bisa kamu lakukan?
4. Keteladanan apa yang perlu ditiru? 5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
π Penutup
⏩⏩⏩⏩ TUGAS ⏪⏪⏪⏪silahkan mengerjakan tugas
Demikian
materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun,
jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari
kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan
dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari
virus corona atau covid19.
Pembelajaran 3.2 Perumpamaan Kembalinya Anak yang Hilang
Tugas Belajar di Rumah
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021
π Mengamati
Perumpamaan Kembalinya Anak yang Hilang
Diceritakan di masa yang lalu, ada seorang anak laki-laki sejak ia masih muda pergi
meninggalkan ayahnya. Ia pergi mengembara ke negeri lain, selama berpuluh-puluh
tahun. Tetapi dalam perjalanan hidupnya, semakin lama, ia semakin memiliki banyak
kebutuhan. Akhirnya dalam pengembaraanya dalam mencari sandang dan pangan,
tanpa diduga ia mendekati tanah kelahirannya.
Di sisi yang lain, sejak lama ayahnya telah mencari anaknya, tetapi sia-sia belaka.
Ayahnya sekarang menjadi sangat kaya raya, rumahnya yang mewah, barang dan harta
bendanya sudah tak terhitung lagi. Emas, perak, kristal dan permata-permata lainnya
hingga lumbung dan harta bendanya lainnya melimpah.
Ia banyak mempunyai pembantu dan pelayan, serta memiliki banyak gajah, kuda,
kereta, lembu dan domba yang juga tak terhingga jumlahnya. Penghasilan dan modalnya
tersebar di negeri-negeri lain, pedagang dan langganannya pun luar biasa banyaknya.
Suatu hari, si anak malang mengembara dari desa ke desa dan menjelajahi banyak
negeri dan kota hingga akhirnya sampailah dia pada suatu kota di mana ayahnya tinggal.
Sang ayah selalu memikirkan anaknya. Sang anak telah berpisah darinya selama puluhan
tahun. Namun demikian, belum pernah ia membicarakan hal ini dengan orang lain. Ia
selalu merenung sendiri dan selalu menyimpan penyesalannya dalam hati, dan berpikir,
“Saya sudah tua dan sudah lanjut usia. Saya memiliki banyak kekayaan emas, perak,
permata, lumbung serta harta benda yang melimpah-limpah, tetapi saya tidak berputra.
Suatu hari nanti, saat akhir hayat saya tiba, kekayaan ini akan berceceran dan hilang
karena tiada seorang pun yang akan mewarisinya. Seandainya aku bisa mendapatkan
anakku kembali dan memberikan kekayaanku kepadanya, betapa puas dan gembiranya
hatiku tanpa adanya kekhawatiran lagi.”
Sementara itu, tanpa diduga si anak malang
yang bekerja di sana sini sampailah ia di kediaman
ayahnya. Sambil berdiri di ambang pintu, ia melihat
dari kejauhan kalau ada seorang tua yang sedang
duduk di sebuah kursi berbentuk singa dan kakinya
di atas penunjang kaki bertahtakan manikam, serta
tubuhnya berhiaskan untaian mutiara yang sangat
mahal. Orang tua itu selalu dipuja dan dikelilingi
oleh para Brahmana, Kesatria dan penduduk.
Demikian mulia dan agung martabatnya.
Melihat orang tua yang memiliki kekuasaan
yang sedemikian besarnya, si anak malang itu
tercekam oleh perasaan takut dan menyesal bahwa
ia telah datang ke tempat ini, sehingga diam-diam
ia berpikir, “Tentunya ia seorang raja atau seorang
keturunan raja, dan ini bukanlah tempat bagi saya
untuk bekerja. Lebih baik saya pergi ke dusundusun kecil di mana ada tempat bagiku untuk
bekerja. Jika saya berlama-lama di sini, mungkin
saya akan dianiaya dan dipaksakan bekerja.”
Setelah berpikir demikian, ia segera pergi. Tetapi pada saat itu, orang tua yang tengah
duduk di kursi singa, yang tidak lain adalah ayah si anak malang tersebut, telah mengenali
anaknya pada pandangan pertama. Dengan kegembiraan yang luar biasa dalam hati, ia
berpikir, “Sekarang aku telah menemukan seseorang kepada siapa harta kekayaanku akan
kuwariskan. Selalu aku pikirkan anakku ini tanpa dapat menemuinya, tetapi tiba-tiba ia
telah datang sendiri dan rasa rinduku telah terobati. Meskipun telah lanjut usianya, aku
tetap merindukannya.” Dengan segera ia memutuskan para utusannya untuk mengejar
dan membawanya kembali. Si anak malang itu menjadi terkejut dan ketakutan, serta
dengan keras berteriak membantah, “Saya tidak mengganggu kalian, mengapa saya
harus ditangkap?”
Para utusan itu malah bertindak lebih cepat lagi untuk menangkapnya dan
memaksanya kembali. Anak itu berpikir dalam hati bahwa meskipun ia tak bersalah, ia
akan dipenjarakan juga, dan hal ini berarti kematiannya, sehingga bertambah ngeri dan
takut hatinya. Akhirnya ia pingsan dan rubuh ke tanah.
Sang ayah yang melihat dari kejauhan kemudian memerintahkan utusannya sambil
berkata, “Tidak ada gunanya orang ini ditangkap, jangan membawanya dengan paksa.
Teteskan air dingin pada wajahnya agar ia sadar kembali dan jangan bicara apapun lagi
kepadanya.”
Sang ayah mengetahui watak anaknya yang rendah diri dan menyadari kedudukannya
sendiri seperti seorang raja, telah menyebabkan kedukaan pada anaknya. Ia semakin
percaya bahwa anak ini adalah anaknya, tetapi dengan kebijaksanaan ia tidak mengatakan
apapun pada orang lain bahwa anak ini adalah anaknya yang sejati. Salah seorang utusan
itu kemudian berkata kepada anak malang itu, “Sekarang engkau dibebaskan. Pergilah ke
mana engkau suka!” Anak malang itu menjadi gembira karena memperoleh apa yang
diharapkannya. Ia bangkit dan pergi ke sebuah perkampungan yang miskin untuk
mencari sandang pangan. Orang tua yang ingin menarik hati anaknya itu, kemudian
mulai mengatur suatu rencana. Dengan diam-diam ia mengirim 2 orang untuk
mengunjungi anaknya dan mengusahakan agar anaknya kembali serta diberikan
pekerjaan untuknya. Setelah menemukannya, mereka menawarkan anak malang itu
pekerjaan membersihkan kotoran. Sang ayah yang sedang memperhatikan dari kejauhan
itu, dicekam rasa haru dan kasihan kepadanya. Perawakan anaknya yang ceking, kurus
dan muram dikotori dan dinodai oleh tumpukan kotoran serta debu.
Kemudian ia menanggalkan untaian permatanya,
pakaiannya yang lembut dan perhiasannya. Sang
ayah mengenakan pakaian kasar, compang camping
serta kotor, lalu melumuri tubuhnya dengan debu.
Dengan sikap tegas ia mendekati anaknya serta
berkata, “Tinggallah dan bekerjalah di sini, jangan
pergi ke mana-mana lagi, akan aku naikkan upahmu,
dan apa pun yang engkau perlukan, janganlah ragu-ragu untuk mengatakannya. Aku
akan memberikanmu seorang pelayan yang sudah tua. Tenangkanlah hatimu, anggaplah
aku seperti ayahmu sendiri dan jangan takut lagi. Betapa pun juga saya sudah tua dan
lanjut usia, sedangkan engkau masih muda belia dan perkasa.
Orang tua itu melihat bahwa selama dia bekerja, sang anak belum pernah menipu,
malas, marah ataupun menggerutu. “Mulai saat ini dan seterusnya, engkau akan aku
anggap sebagai anakku sendiri yang kulupakan” kata orang tua itu. Kemudian, orang
tua itu memberinya nama baru dan memanggilnya seperti anaknya. Meskipun anak
itu bersuka-cita atas kejadian ini, tetapi ia masih juga berpikir tentang dirinya hanyalah
sebagai seorang buruh rendahan. Sang anak melanjutkan pekerjaannya selama 20 tahun
di kediaman orang tua tersebut. Selama kurun waktu tersebut, akhirnya timbullah rasa
saling mempercayai di antara mereka sehingga ia dapat keluar masuk dengan leluasa.
Meskipun demikian, tempat kediaman sang anak masih tetap di tempat semula.
Ketika orang tua itu jatuh sakit, dan menyadari bahwa sebentar lagi ajalnya akan
tiba, ia berkata kepada si anak malang itu untuk menyetujui petunjuk dan perintahnya. Sang orang tua memerintahkan si anak agar dapat mempergunakan dan menjadi
terbiasa dengan semua harta kekayaannya yang berlimpah itu. Setelah beberapa lama
berselang, ayahnya mengetahui bahwa pemikiran anaknya lambat laun berkembang
dan kemauannya tumbuh dengan baik. Ketika mengetahui bahwa akhir hayatnya sudah
dekat, ia memerintahkan anaknya untuk datang ke rumahnya. Pada saat yang sama,
orang tua tersebut juga mengumpulkan sanak keluarganya, para raja, para menteri,
para kesatria dan rakyat. Orang tua tersebut ingin menyampaikan bahwa anak malang
itu adalah puteranya yang telah lama hilang, yang telah meninggalkannya berpuluh
tahun lamanya. Orang tua itu menegaskan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa anak
itu adalah benar-benar anaknya dan ia telah mendapatkannya kembali. Seluruh harta
kekayaan yang dimilikinya, semuanya menjadi hak puteranya, berikut semua pengeluaran
dan penerimaan terdahulu yang sudah diketahui oleh si anak.
Ketika anak malang itu mendengar kata-kata ayahnya, betapa besar kegembiraannya
atas berita yang tidak pernah diharapkannya ini. Ia lalu berpikir, “Tanpa saya bersusah
payah mencarinya, harta benda ini telah datang sendiri kepadaku.” Demikianlah, bahwa
orang tua yang sangat kaya raya itu adalah Tathagata, dan kita semua adalah putraputra Buddha, anak-anak-Nya. Beliau mengetahui bahwa dengan adanya penderitaan di
tengah-tengah kelahiran dan kematian, telah menyebabkan kita menanggung segalanya,
diperdayakan, diabaikan dan diremehkan oleh kasih kita.
π Menanya
Setelah amati
video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang Kembalinya Anak yang Hilang dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas!
π Mengumpulkan Data Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
π Mengolah Data
Ayo
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
π Menalar
Ayo,
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat
yang jelas.
π Mengkomunikasikan Ayo, ceritakan Kembalinya Anak yang Hilang yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu! Sampaikan pendapatmu: 1. Apa yang menarik perhatianmu? 2. Apa yang kamu lihat? 3. Apa yang bisa kamu lakukan?
4. Keteladanan apa yang perlu ditiru? 5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
π Penutup
⏩⏩⏩⏩ TUGAS ⏪⏪⏪⏪silahkan mengerjakan tugas
Demikian
materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun,
jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari
kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan
dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari
virus corona atau covid19.
Selamat beristirahat, jangan lupa belajar
Tugas Penilaian Harian Klik
πΌDISINI
JANGAN LUPA TULIS NAMA DI KOMENTAR UNTUK DAFTAR HADIR DALAM PELAJARAN INI DAN KLIK JUGA DAFTAR HADIR DI GOOGLE FORM
Pembelajaran Seorang Pemburu yang Dimangsa oleh Anjing-anjingnya Sendiri
Tugas Belajar di Rumah
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021
Diceritakan pada suatu pagi, seorang pemburu bernama Koka, sedang dalam
perjalanan menuju sebuah hutan untuk berburu binatang. Dia membawa busur panah
di tangannya, diiringi sekelompok anjing pemburu. Dalam perjalanan menuju hutan
dia bertemu seorang bhikkhu yang sedang berjalan menuju desa untuk pindapata.
Melihat bhikkhu tersebut, pemburu Koka memendam rasa marah. Sambil melanjutkan
perjalanannya, dia berpikir, “Pagi ini saya bertemu orang pembawa ketidakberuntungan,
hari ini pasti saya tidak mendapatkan apa-apa”. Setelah selesai ber-pindapata, bhikkhu
tersebut pulang kembali ke Viharanya.
Demikian pula pemburu Koka yang telah berkeliling di hutan dan tidak memperoleh
satupun binatang buruannya. Nampak kekesalan menyelimuti wajahnya sambil keluar
dari hutan, untuk pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan pulang si pemburu bertemu
kembali dengan bhikkhu yang dijumpainya sebelum masuk ke hutan. Melihat bhikkhu itu
lagi, dia menjadi amat marah dan pikirnya: “Tadi pagi saya bertemu dengan si pembawa
ketidakberuntungan ini, lalu saya pergi ke hutan untuk berburu binatang, ternyata
saya tidak mendapatkan apa-apa. Sekarang tiba-tiba dia muncul lagi di hadapan saya,
kemudian muncullah niat jahatnya dengan menyuruh anjing-anjingnya untuk memakan
bhikkhu tersebut”
Pemburu Koka segera memerintahkan anjing-anjingnya untuk menyerang bhikkhu itu.
Bhikkhu tersebut memohon belas kasihannya dengan berkata, “Jangan, jangan lepaskan
anjing-anjing itu”. Pemburu Koka menjawab: “Hai, Orang pembawa ketidakberuntungan,
pagi hari ini saya bertemu denganmu, dan karena kamu pembawa ketidakberuntungan.
Saya tidak mendapatkan satu binatang buruan apapun di hutan. Sekarang kamu
muncul lagi di hadapan mata saya, biarlah anjing-anjing saya memakanmu, hanya itu
yang ingin saya katakan”. Setelah berkata demikian, tanpa banyak bicara lagi pemburu
Koka segera melepas anjing-anjingnya dan memerintahkan untuk menyerang bhikkhu
tersebut. Bhikkhu tersebut segera berlari karena dikejar-kejar anjing. Akhirnya bhikkhu
itu memanjat pohon, dan duduk di cabang pohon. Anjing-anjing itu tetap memburunya,
menggonggong dan menggeram-geram di bawah pohon, bersiap-siap untuk menerkam
bhikkhu tersebut. Pemburu Koka yang mengikuti anjingnya, berdiri di bawah pohon
sambil berkata: “Kamu pikir kamu dapat melepaskan diri dari cengkeraman saya dengan
naik ke pohon itu?”.
Belum puas dengan ulah yang dibuatnya, timbullah niat jahat yang lain, dia ingin
memanah kaki bhikkhu. Kemudian, pemburu Koka segera memanah kaki bhikkhu yang
tergantung itu dengan anak panahnya.
Bhikkhu tersebut sekali lagi memohon: “Jangan panah saya, Saudara”. Pemburu Koka
tidak memperdulikan permohonan bhikkhu itu, ia tetap memanah kaki sang bhikkhu
itu. Semakin banyak anak panah menembus salah satu kaki sang bikkhu. Kemudian,
bhikkhu tersebut menarik kakinya yang terluka, dan membiarkan kaki yang satunyatetap tergantung. Tetapi, anak panah terus menerus menembus kakinya yang masih
tergantung. Karena kesakitan, ia lalu menarik kakinya yang masih tergantung ke atas.
Pemburu Koka tetap terus memanah kedua kaki bhikkhu tersebut. Akhirnya bhikkhu
itu merasakan badannya panas seperti terbakar. Karena ia merasa amat sakit, ia tidak
dapat lagi memusatkan pikirannya. Dia tidak tahu dan tidak menyadari ketika jubah yang
dikenakannya jatuh. Ternyata jubahnya jatuh menutupi seluruh tubuh Pemburu Koka.
“Bhikkhu itu jatuh dari pohon”, pikir anjing-anjing itu. Segera dengan garangnya anjinganjing itu menyerang orang yang berada di bawah jubah, menyeret, merobek-robek
dan memakan, yang ternyata majikannya sendiri. Akhirnya, yang tersisa tinggal tulangtulangnya saja. Setelah itu, anjing-anjing itu duduk diam, menunggu perintah selanjutnya. Tidak lama kemudian banyak anak panah berjatuhan dari atas pohon dan mengenai
anjing-anjing tersebut. Pada saat itu anjing-anjing itu melihat bhikkhu yang mereka kejar
masih berada di atas pohon, mereka lalu berpikir, “Wah, kita memakan majikan sendiri!”.
Menyadari hal tersebut, anjing-anjing itu lari tunggang langgang. Bhikkhu itu amat
kaget dan bingung melihat apa yang terjadi di bawah pohon, lalu ia berpikir, “Pemburu
itu kehilangan nyawanya karena jubah saya jatuh dan menutupinya, apakah kesucian
saya tidak ternoda?”. Pikiran bhikkhu itu berkecamuk, kemudian ia turun dari pohon.
Bikkhu pergi menemui Sang Buddha dan menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya.
Bhikkhu itu mengatakan bahwa “semua itu terjadi karena jubahnya”, sehingga pemburu
itu kehilangan nyawanya, apakah kesucian saya tidak ternoda? Apakah saya tetap dapat
mempertahankan kesucian saya?”
Setelah Sang Buddha mendengar seluruh cerita itu,
Beliau menjawab: “Bhikkhu, kesucianmu tidak ternoda,
kamu tetap suci, barang siapa yang berniat melukai
orang lain yang tidak bersalah, ia akan menerima
hukumannya. Lagi pula, hal seperti ini bukan yang
pertama kalinya ia lakukan. Pada kehidupannya yang
terdahulu, ia juga berniat melukai orang yang tidak
bersalah dan menerima hukumannya”. Sang Buddha lalu
bercerita: “Pada kehidupannya yang terdahulu, ia adalah
seorang tabib yang berkeliling desa untuk mencari
pasien. Pada hari itu, tidak ada seorang pasien pun yang
datang padanya. Rasa lapar yang menyelimuti perut
akhirnya membuatnya keluar dari desa. Di pintu gerbang
desa, ia melihat anak-anak yang sedang bermain. Segera
timbul pikiran jahatnya, “Saya akan membawa seekor
ular dan akan saya biarkan ular itu menggigit salah
satu anak itu, sehinga ia terluka. Lalu saya obati, sehingga saya memperoleh uang untuk
membeli makanan.” Lalu ia mencari seekor ular dan meletakkannya di lubang pohon
dekat tempat anak-anak bermain. Kepala ular menyembul keluar dari lubang pohon, lalu
ia berkata kepada anak-anak: “Anak-anak, lihatlah ada seekor burung Salika, tangkaplah.”
Salah seorang anak segera memegang leher ular itu erat-erat, dan menariknya keluar
dari lubang pohon. Tetapi, ketika ia melihat yang dipegangnya itu ternyata seekor ular, ia
menjerit ketakutan, berteriak-teriak lalu melempar ular itu ke atas. Ternyata ular itu jatuhtepat di atas kepala tabib itu. Segera ular itu membelit leher si tabib dan menggigitnya
keras-keras, akhirnya tabib itu mati. “Jadi”, kata Sang Buddha, “dalam kehidupannya yang
terdahulu, pemburu Koka berniat melukai orang yang tidak bersalah dan ia memperoleh
hukumannya”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair:
“Barang siapa yang berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci dan orang yang tidak
bersalah maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu bagaikan debu yang
dilempar melawan angin”. (Dhammapada 10)
π Menanya
Setelah amati
video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang Seorang Pemburu yang Dimangsa oleh Anjing-anjingnya Sendiridengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas!
π Mengumpulkan Data Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
π Mengolah Data
Ayo
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
π Menalar
Ayo,
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat
yang jelas.
π Mengkomunikasikan Ayo, ceritakan perumpaan kayu dan gitar yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu! Sampaikan pendapatmu: 1. Apa yang menarik perhatianmu? 2. Apa yang kamu lihat? 3. Apa yang bisa kamu lakukan?4. Keteladanan apa yang perlu ditiru? 5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
π Penutup
⏩⏩⏩⏩ TUGAS ⏪⏪⏪⏪silahkan mengerjakan tugas
Demikian
materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun,
jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari
kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan
dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari
virus corona atau covid19.
Pembelajaran 4 Memaknai kisah orang yang terkena panah beracun
Tugas Belajar di Rumah
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021
Cerita Perumpamaan orang yang terluka terkena panah beracun, diambil dari Kitab Suci Tipitaka” Majhima Nikaya I : 63, dari Culamalunkya Sutta, 63. Dijelaskan dalam cerita tentang apa yang seharusnya orang lakukan, hal-hal yang lebih penting, dan tidak mengembangkan pada pikiran-pikiran yang tidak perlu.
Cerita perumpamaan tersebut untuk mengingatkan kembali Bhikkhu MΔlunkyΔputta yang pada saat itu, merasa terbebani pikirannya, sehingga konsentrasinya terganggu. Sesungguhnya apa yang dipikirkan oleh Bhikkhu MΔlunkyΔputta tidak perlu terjadi. Karena pikiran demikian tidak bermanfaat.
Dalam cerita Perumpamaan Orang Terkena Panah Beracun ini yang lebih diutamakan adalah bahwa kehidupan penuh dengan penderitaan. Di dalam kehidupan terdapat kelahiran, tumbuh dan berkembang, lalu menjadi tua, sakit, dan mati. Dalam ajarannya, Buddha lebih mengutamakan tentang bagaimana mengatasi hal tersebut. Ingat tujuan akhir umat Buddha adalah Nibbana.
Jadi, akan sangat baik jika kita sebagai siswa Buddha, mengutamakan yang lebih penting dan bermanfaat terlebih dahulu, dan bukan memikirkan segala sesuatu yang tidak perlu. Misalnya, yang seharusnya kita lakukan di sekolah adalah belajar dengan tekun dan giat, dan tidak berpikir tentang masa liburan yang belum terjadi
π Menanya
Setelah amati
video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang memaknai kisah orang yang terkena panah beracun dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas!
π Mengumpulkan Data Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
π Mengolah Data
Ayo
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
π Menalar
Ayo,
kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati
apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu
atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat
yang jelas.
π Mengkomunikasikan Ayo, ceritakan memaknai kisah orang yang terkena panah beracun yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu! Sampaikan pendapatmu: 1. Apa yang menarik perhatianmu? 2. Apa yang kamu lihat? 3. Apa yang bisa kamu lakukan?4. Keteladanan apa yang perlu ditiru? 5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
π Penutup
⏩⏩⏩⏩ TUGAS ⏪⏪⏪⏪silahkan mengerjakan tugas
Demikian
materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun,
jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari
kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan
dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari
virus corona atau covid19.
Pembelajaran 3 Kisah Orang Yang Terkena Panah Beracun
Tugas Belajar di Rumah
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021
A. Kisah Orang yang Terkena Panah Beracun
Khotbah ini disampaikan berkenaan dengan pertanyaan MΔlunkyΔputta kepada Sang Buddha. Diceritakan pada suatu ketika Sang BhagavΔ berada di Jetava, taman milik Anathapindika, Savathi. Di saat Yang Mulia MΔlunkyΔputta sedang sendirian dalam meditasi, buah pikiran berikut ini muncul dalam pikirannya:
• ‘Dunia adalah abadi’ dan ‘dunia adalah tidak abadi’;
• ‘Dunia adalah terbatas’ dan ‘dunia adalah tidak terbatas’;
• ‘Jiwa adalah sama dengan badan’ dan ‘jiwa adalah satu hal dan badan adalah hal lainnya’;
• ‘Sang TathΔgata ada setelah kematian’ dan ‘Sang TathΔgata tidak ada setelah kematian’; dan
• ‘Sang TathΔgata ada juga tidak ada setelah kematian’ dan ‘Sang TathΔgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian.’
Apa yang dipikirkan oleh Yang Mulia MΔlunkyΔputta, telah dibiarkan tidak dijelaskan oleh Sang BhagavΔ.
Atas kondisi tersebut, Yang Mulia MΔlunkyΔputtaberkeinginan mendatangi Sang BhagavΔ dan menanyakan kepada-Nya makna dari hal tersebut. Jika Ia menyatakan kepadaku maka aku akan menjalani kehidupan suci di bawah Beliau; jika Ia tidak menyatakan hal-hal ini kepadaku, maka aku akan meninggalkan latihan ini dan kembali kepada kehidupan rendah.”
Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia MΔlunkyΔputta bangkit dari meditasinya dan menghadap Sang BhagavΔ. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau:
Yang Mulia, sewaktu aku sendirian dalam meditasi, buah pikiran berikut ini muncul dalam pikiranku: ‘Pandangan-pandangan spekulatif ini telah dibiarkan tidak dijelaskan oleh Sang BhagavΔ. Jika Sang BhagavΔ tidak menyatakan hal-hal ini kepadaku, maka aku akan meninggalkan latihan ini dan kembali kepada kehidupan rendah.
Selanjutnya Yang Mulia MΔlunkyΔputta menanyakan dan meminta penjelasan kepada Sang BhagavΔ, tentang buah pikirannya yang muncul di saat meditasinya. Seperti “Apakah alam semesta ini kekal abadi. Apakah alam semesta ini tidak kekal abadi. Apakah alam semesta ini berbatas. Apakah alam semesta ini tidak berbatas. Apakah jiwa itu sama dengan badan. Apakah jiwa itu lain dengan badan. Apakah Sang Tathagata ada sesudah kematian. Apakah Sang Tathagata ada dan tidak ada sesudah kematian. Apakah Sang Tathagata tidak ada dan bukan tidak ada sesudah kematian?”
Selanjutnya, Sang BhagavΔ menanyakan apakah Ia pernah memberikan janji kepadanya, untuk menjelaskan itu semua, agar menjalani kehidupan suci di bawah Sang Buddha? Yang Mulia MΔlunkyΔputta menjawab, “Tidak, Yang Mulia.”
Untuk memberikan pencerahan Sang BhagavΔ membuat cerita perumpamaan sebagai berikut: “Misalkan, MΔlunkyΔputta, seseorang yang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah untuk merawatnya.
Orang itu berkata: ‘aku tidak akan membiarkan ahli bedah ini mencabut anak panah ini hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku adalah seorang mulia atau seorang brahmana atau seorang pedagang atau seorang pekerja.’ Dan ia mengatakan: ”aku tidak akan membiarkan ahli bedah ini mencabut anak panah ini hingga aku mengetahui nama dan suku dari orang yang melukaiku. Hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku tinggi; pendek; atau sedang. Hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku berkulit gelap atau cokelat atau keemasan. Hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku hidup di desa; kota; pemukiman atau apa. Hingga aku mengetahui apakah busur yang melukaiku adalah sebuah busur panjang atau busur silang. Hingga aku mengetahui apakah tali busur yang melukaiku terbuat dari serat atau buluh atau urat atau rami atau kulit kayu. Hingga aku mengetahui apakah tangkai anak panah itu adalah alami atau buatan. Hingga aku mengetahui dari bulu apakah tangkai anak panah yang melukaiku itu dipasangkan, apakah dari burung nasar; burung bangau; burung elang; burung merak; atau burung jangkung. Hingga aku mengetahui dengan urat jenis apakah tangkai anak panah itu diikat. Apakah urat sapi; kerbau; rusa; atau monyet. Hingga aku mengetahui jenis mata anak panah apakah yang melukaiku. Apakah berpaku; berpisau; melengkung; berduri; atau bergigi-anak-sapi; atau berbentuk-tombak.“ Semua ini masih tetap tidak akan diketahui oleh orang itu dan sementara itu orang itu akan mati. Demikian pula, MΔlunkyΔputta, jika siapapun mengatakan sebagai berikut: ‘aku tidak akan menjalani kehidupan suci di bawah Sang BhagavΔ hingga Sang BhagavΔ menyatakan kepadaku “dunia adalah abadi” atau “Sang TathΔgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian,” hal itu masih tetap tidak akan dinyatakan oleh Sang BhagavΔ dan sementara itu orang itu akan mati.
Sesudah itu Sang Buddha menerangkan kepada MΔlunkyΔputta bahwa menuntut penghidupan suci tidaklah tergantung kepada hal-hal tersebut di atas. Pandangan apa pun yang dimiliki orang mengenai soal-soal yang dikemukakannya di atas, ketahuilah, tetap akan ada kelahiran, usia tua, kelapukan, kematian, kesedihan, keluh-kesah, kesakitan, kekecewaan, kemalangan; sedangkan permusuhannya dapat kita lakukan dalam kehidupan ini juga. “Dari itu MΔlunkyΔputta, ingatlah baik-baik tentang apa yang Aku terangkan dan jangan hiraukan apa yang Aku tidak terangkan. Apakah hal-hal yang Aku tidak terangkan?
“Mengapakah Aku membiarkan hal-hal itu tidak dinyatakan? Karena tidak bermanfaat, bukan bagian dari dasar-dasar kehidupan suci, tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju NibbΔna. Itulah sebabnya mengapa Aku membiarkannya tidak dinyatakan”. “Dan apakah yang telah Kunyatakan? ‘Ini adalah penderitaan, telah Aku nyatakan. Ini adalah asal-mula penderitaan, telah Aku nyatakan. Ini adalah lenyapnya penderitaan, telah Aku nyatakan. Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan, telah Aku nyatakan.
“Mengapakah Aku menyatakannya? Karena bermanfaat, menjadi bagian dari dasar dasar kehidupan suci, menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju NibbΔna. Itulah sebabnya mengapa Aku menyatakannya. “Oleh karena itu, MΔlunkyΔputta, ingatlah apa yang Kubiarkan tidak dinyatakan sebagai tidak dinyatakan, dan ingatlah apa yang telah dinyatakan oleh-Ku sebagai dinyatakan.” Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang BhagavΔ. Yang Mulia MΔlunkyΔputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang BhagavΔ.
πMenanya
Setelah amati video dan
baca cerita tentang kisah orang yang terkena panah beracun dengan cermat kemudian
ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas!
Pendapatku:
1. ......................................
2.
......................................
3.
......................................
(silahkan tambah
pendapatmu)
Pertanyaanku:
1.
...................................... ?
2.
...................................... ?
3.
...................................... ?
(silahkan tambah
pertanyaanmu)
π Mengumpulkan
Data
Berdasarkan hasil bacaan
dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama
orang tuamu untuk:Mencatat informasi penting
apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
Buatlah pertanyaan mencari
tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas
gambar dan teks bacaan di atas.
Carilah informasi dari
buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
Satukan pendapat dan
jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
Sampaikan hasil diskusi di
depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
π Mengolah Data
Ayo kelompokkan semua
jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu
peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah
kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
π Menalar
Ayo, kelompokkan semua jawaban dan informasi
yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan
tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini
dengan kalimat yang jelas.
π
Mengkomunikasikan
Ayo, ceritakan kisah orang yang terkena panah beracun
yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu!
Sampaikan pendapatmu:
1. Apa yang menarik
perhatianmu?
2. Apa yang kamu lihat?
3. Apa yang bisa kamu
lakukan?
4. Keteladanan apa yang
perlu ditiru?
5. Apa pesan moral yang
kamu dapat?
π Penutup
Pada pertemuan pelajaran agama Buddha besok ada perubahan
jadwal, untuk pembelajaran pendidikan agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 6
hari Rabu, 6 Agustus 2020,
Demikian materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di
rumah dengan tekun, jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting,
hindari kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan
dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari virus
corona atau covid19.