informasi cari disini

Showing posts with label Kelas 6. Show all posts
Showing posts with label Kelas 6. Show all posts

Thursday, 27 August 2020

PRAJNA ANAK YANG RAJIN

 

Pembelajaran 3.2 Prajna Anak yang Yang Rajin

Tugas Belajar di Rumah

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021

 


😎 Mengamati

 

Prajna Anak yang Rajin

    Di suatu desa ada seorang anak yang bernama Prajna. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Prajna merupakan siswa sekolah dasar. Prajna tergolong anak yang rajin belajar. Ia memahami bahwa ia harus rajin belajar, sehingga di kemudian hari cita-citanya dapat tercapai.

    Setiap hari Minggu, ia rajin pergi ke Vihara untuk beribadah dan melaksanakan sekolah Minggu. Sekolah Minggunya bernama Sekolah Minggu Buddhis Cipta Sarana Budhi. Ia pergi ke Vihara dengan berjalan kaki walaupun, untuk mencapai Vihara ia harus melewati pematang sawah. Bukan hanya Prajna, tetapi hampir seluruh siswa sekolah Minggu paham arti penting ke Vihara dan melaksanakan sekolah Minggu.

    Semua siswa mengetahui bahwa Buddha telah meninggalkan warisan yang sangat berharga. Buddha sangatlah kaya.


😎 Menanya
     Setelah amati video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang Prajna Anak Yang Rajin dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas! 
Pendapatku:    
1. ......................................
2. ......................................
3. ......................................
(silahkan tambah pendapatmu)
 
Pertanyaanku:    
1. ...................................... ?
2. ...................................... ?
3. ...................................... ?  
(silahkan tambah pertanyaanmu)
 
😎 Mengumpulkan Data
Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
  1. Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
  2. Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
  3. Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
  4. Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
  5. Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
😎 Mengolah Data
    Ayo kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
😎 Menalar
     Ayo, kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat yang jelas.

😎 Mengkomunikasikan
 Ayo, ceritakan Prajna Anak Yang Rajin yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu!
Sampaikan pendapatmu:
1. Apa yang menarik perhatianmu?
2. Apa yang kamu lihat?
3. Apa yang bisa kamu lakukan?
4. Keteladanan apa yang perlu ditiru?
5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
😎 Penutup

  ⏩⏩⏩⏩  TUGAS  ⏪⏪⏪⏪ silahkan mengerjakan tugas

    Demikian materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun, jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari virus corona atau covid19.
Selamat beristirahat, jangan lupa belajar


Tugas Penilaian Harian Klik

πŸ”ΌDISINI


JANGAN LUPA TULIS NAMA DI KOMENTAR UNTUK DAFTAR HADIR DALAM PELAJARAN INI DAN KLIK JUGA DAFTAR HADIR DI GOOGLE FORM

Daftar Hadir Siswa Klik
πŸ”ΌDISINI

Wednesday, 26 August 2020

Kembalinya Anak yang Hilang

 

Pembelajaran 3.2 Perumpamaan Kembalinya Anak yang Hilang 

Tugas Belajar di Rumah

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021

😎 Mengamati

Perumpamaan Kembalinya Anak yang Hilang 

    Diceritakan di masa yang lalu, ada seorang anak laki-laki sejak ia masih muda pergi meninggalkan ayahnya. Ia pergi mengembara ke negeri lain, selama berpuluh-puluh tahun. Tetapi dalam perjalanan hidupnya, semakin lama, ia semakin memiliki banyak kebutuhan. Akhirnya dalam pengembaraanya dalam mencari sandang dan pangan, tanpa diduga ia mendekati tanah kelahirannya. 

    Di sisi yang lain, sejak lama ayahnya telah mencari anaknya, tetapi sia-sia belaka. Ayahnya sekarang menjadi sangat kaya raya, rumahnya yang mewah, barang dan harta bendanya sudah tak terhitung lagi. Emas, perak, kristal dan permata-permata lainnya hingga lumbung dan harta bendanya lainnya melimpah.

    Ia banyak mempunyai pembantu dan pelayan, serta memiliki banyak gajah, kuda, kereta, lembu dan domba yang juga tak terhingga jumlahnya. Penghasilan dan modalnya tersebar di negeri-negeri lain, pedagang dan langganannya pun luar biasa banyaknya. 

    Suatu hari, si anak malang mengembara dari desa ke desa dan menjelajahi banyak negeri dan kota hingga akhirnya sampailah dia pada suatu kota di mana ayahnya tinggal. Sang ayah selalu memikirkan anaknya. Sang anak telah berpisah darinya selama puluhan tahun. Namun demikian, belum pernah ia membicarakan hal ini dengan orang lain. Ia selalu merenung sendiri dan selalu menyimpan penyesalannya dalam hati, dan berpikir, “Saya sudah tua dan sudah lanjut usia. Saya memiliki banyak kekayaan emas, perak, permata, lumbung serta harta benda yang melimpah-limpah, tetapi saya tidak berputra. Suatu hari nanti, saat akhir hayat saya tiba, kekayaan ini akan berceceran dan hilang karena tiada seorang pun yang akan mewarisinya. Seandainya aku bisa mendapatkan anakku kembali dan memberikan kekayaanku kepadanya, betapa puas dan gembiranya hatiku tanpa adanya kekhawatiran lagi.” 


    Sementara itu, tanpa diduga si anak malang yang bekerja di sana sini sampailah ia di kediaman ayahnya. Sambil berdiri di ambang pintu, ia melihat dari kejauhan kalau ada seorang tua yang sedang duduk di sebuah kursi berbentuk singa dan kakinya di atas penunjang kaki bertahtakan manikam, serta tubuhnya berhiaskan untaian mutiara yang sangat mahal. Orang tua itu selalu dipuja dan dikelilingi oleh para Brahmana, Kesatria dan penduduk. Demikian mulia dan agung martabatnya. 

    Melihat orang tua yang memiliki kekuasaan yang sedemikian besarnya, si anak malang itu tercekam oleh perasaan takut dan menyesal bahwa ia telah datang ke tempat ini, sehingga diam-diam ia berpikir, “Tentunya ia seorang raja atau seorang keturunan raja, dan ini bukanlah tempat bagi saya untuk bekerja. Lebih baik saya pergi ke dusundusun kecil di mana ada tempat bagiku untuk bekerja. Jika saya berlama-lama di sini, mungkin saya akan dianiaya dan dipaksakan bekerja.” 

    Setelah berpikir demikian, ia segera pergi. Tetapi pada saat itu, orang tua yang tengah duduk di kursi singa, yang tidak lain adalah ayah si anak malang tersebut, telah mengenali anaknya pada pandangan pertama. Dengan kegembiraan yang luar biasa dalam hati, ia berpikir, “Sekarang aku telah menemukan seseorang kepada siapa harta kekayaanku akan kuwariskan. Selalu aku pikirkan anakku ini tanpa dapat menemuinya, tetapi tiba-tiba ia telah datang sendiri dan rasa rinduku telah terobati. Meskipun telah lanjut usianya, aku tetap merindukannya.” Dengan segera ia memutuskan para utusannya untuk mengejar dan membawanya kembali. Si anak malang itu menjadi terkejut dan ketakutan, serta dengan keras berteriak membantah, “Saya tidak mengganggu kalian, mengapa saya harus ditangkap?” 

    Para utusan itu malah bertindak lebih cepat lagi untuk menangkapnya dan memaksanya kembali. Anak itu berpikir dalam hati bahwa meskipun ia tak bersalah, ia akan dipenjarakan juga, dan hal ini berarti kematiannya, sehingga bertambah ngeri dan takut hatinya. Akhirnya ia pingsan dan rubuh ke tanah. 

    Sang ayah yang melihat dari kejauhan kemudian memerintahkan utusannya sambil berkata, “Tidak ada gunanya orang ini ditangkap, jangan membawanya dengan paksa. Teteskan air dingin pada wajahnya agar ia sadar kembali dan jangan bicara apapun lagi kepadanya.” Sang ayah mengetahui watak anaknya yang rendah diri dan menyadari kedudukannya sendiri seperti seorang raja, telah menyebabkan kedukaan pada anaknya. Ia semakin percaya bahwa anak ini adalah anaknya, tetapi dengan kebijaksanaan ia tidak mengatakan apapun pada orang lain bahwa anak ini adalah anaknya yang sejati. Salah seorang utusan itu kemudian berkata kepada anak malang itu, “Sekarang engkau dibebaskan. Pergilah ke mana engkau suka!” Anak malang itu menjadi gembira karena memperoleh apa yang diharapkannya. Ia bangkit dan pergi ke sebuah perkampungan yang miskin untuk mencari sandang pangan. Orang tua yang ingin menarik hati anaknya itu, kemudian mulai mengatur suatu rencana. Dengan diam-diam ia mengirim 2 orang untuk mengunjungi anaknya dan mengusahakan agar anaknya kembali serta diberikan pekerjaan untuknya. Setelah menemukannya, mereka menawarkan anak malang itu pekerjaan membersihkan kotoran. Sang ayah yang sedang memperhatikan dari kejauhan itu, dicekam rasa haru dan kasihan kepadanya. Perawakan anaknya yang ceking, kurus dan muram dikotori dan dinodai oleh tumpukan kotoran serta debu. 

    Kemudian ia menanggalkan untaian permatanya, pakaiannya yang lembut dan perhiasannya. Sang ayah mengenakan pakaian kasar, compang camping serta kotor, lalu melumuri tubuhnya dengan debu. Dengan sikap tegas ia mendekati anaknya serta berkata, “Tinggallah dan bekerjalah di sini, jangan pergi ke mana-mana lagi, akan aku naikkan upahmu, dan apa pun yang engkau perlukan, janganlah ragu-ragu untuk mengatakannya. Aku akan memberikanmu seorang pelayan yang sudah tua. Tenangkanlah hatimu, anggaplah aku seperti ayahmu sendiri dan jangan takut lagi. Betapa pun juga saya sudah tua dan lanjut usia, sedangkan engkau masih muda belia dan perkasa. 

    Orang tua itu melihat bahwa selama dia bekerja, sang anak belum pernah menipu, malas, marah ataupun menggerutu. “Mulai saat ini dan seterusnya, engkau akan aku anggap sebagai anakku sendiri yang kulupakan” kata orang tua itu. Kemudian, orang tua itu memberinya nama baru dan memanggilnya seperti anaknya. Meskipun anak itu bersuka-cita atas kejadian ini, tetapi ia masih juga berpikir tentang dirinya hanyalah sebagai seorang buruh rendahan. Sang anak melanjutkan pekerjaannya selama 20 tahun di kediaman orang tua tersebut. Selama kurun waktu tersebut, akhirnya timbullah rasa saling mempercayai di antara mereka sehingga ia dapat keluar masuk dengan leluasa. Meskipun demikian, tempat kediaman sang anak masih tetap di tempat semula. 

    Ketika orang tua itu jatuh sakit, dan menyadari bahwa sebentar lagi ajalnya akan tiba, ia berkata kepada si anak malang itu untuk menyetujui petunjuk dan perintahnya.  Sang orang tua memerintahkan si anak agar dapat mempergunakan dan menjadi terbiasa dengan semua harta kekayaannya yang berlimpah itu. Setelah beberapa lama berselang, ayahnya mengetahui bahwa pemikiran anaknya lambat laun berkembang dan kemauannya tumbuh dengan baik. Ketika mengetahui bahwa akhir hayatnya sudah dekat, ia memerintahkan anaknya untuk datang ke rumahnya. Pada saat yang sama, orang tua tersebut juga mengumpulkan sanak keluarganya, para raja, para menteri, para kesatria dan rakyat. Orang tua tersebut ingin menyampaikan bahwa anak malang itu adalah puteranya yang telah lama hilang, yang telah meninggalkannya berpuluh tahun lamanya. Orang tua itu menegaskan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa anak itu adalah benar-benar anaknya dan ia telah mendapatkannya kembali. Seluruh harta kekayaan yang dimilikinya, semuanya menjadi hak puteranya, berikut semua pengeluaran dan penerimaan terdahulu yang sudah diketahui oleh si anak. 

    Ketika anak malang itu mendengar kata-kata ayahnya, betapa besar kegembiraannya atas berita yang tidak pernah diharapkannya ini. Ia lalu berpikir, “Tanpa saya bersusah payah mencarinya, harta benda ini telah datang sendiri kepadaku.” Demikianlah, bahwa orang tua yang sangat kaya raya itu adalah Tathagata, dan kita semua adalah putraputra Buddha, anak-anak-Nya. Beliau mengetahui bahwa dengan adanya penderitaan di tengah-tengah kelahiran dan kematian, telah menyebabkan kita menanggung segalanya, diperdayakan, diabaikan dan diremehkan oleh kasih kita.

😎 Menanya
     Setelah amati video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang Kembalinya Anak yang Hilang dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas! 
Pendapatku:    
1. ......................................
2. ......................................
3. ......................................
(silahkan tambah pendapatmu)
 
Pertanyaanku:    
1. ...................................... ?
2. ...................................... ?
3. ...................................... ?  
(silahkan tambah pertanyaanmu)
 
😎 Mengumpulkan Data
Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
  1. Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
  2. Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
  3. Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
  4. Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
  5. Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
😎 Mengolah Data
    Ayo kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
😎 Menalar
     Ayo, kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat yang jelas.

😎 Mengkomunikasikan
 Ayo, ceritakan Kembalinya Anak yang Hilang yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu!
Sampaikan pendapatmu:
1. Apa yang menarik perhatianmu?
2. Apa yang kamu lihat?
3. Apa yang bisa kamu lakukan?
4. Keteladanan apa yang perlu ditiru?
5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
😎 Penutup

  ⏩⏩⏩⏩  TUGAS  ⏪⏪⏪⏪ silahkan mengerjakan tugas

    Demikian materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun, jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari virus corona atau covid19.
Selamat beristirahat, jangan lupa belajar


Tugas Penilaian Harian Klik

πŸ”ΌDISINI


JANGAN LUPA TULIS NAMA DI KOMENTAR UNTUK DAFTAR HADIR DALAM PELAJARAN INI DAN KLIK JUGA DAFTAR HADIR DI GOOGLE FORM

Daftar Hadir Siswa Klik
πŸ”ΌDISINI

 

Thursday, 13 August 2020

Seorang Pemburu yang Dimangsa oleh Anjing-anjingnya Sendiri

 

Pembelajaran  Seorang Pemburu yang Dimangsa oleh Anjing-anjingnya Sendiri

Tugas Belajar di Rumah

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021

 

 

    Diceritakan pada suatu pagi, seorang pemburu bernama Koka, sedang dalam perjalanan menuju sebuah hutan untuk berburu binatang. Dia membawa busur panah di tangannya, diiringi sekelompok anjing pemburu. Dalam perjalanan menuju hutan dia bertemu seorang bhikkhu yang sedang berjalan menuju desa untuk pindapata. Melihat bhikkhu tersebut, pemburu Koka memendam rasa marah. Sambil melanjutkan perjalanannya, dia berpikir, “Pagi ini saya bertemu orang pembawa ketidakberuntungan, hari ini pasti saya tidak mendapatkan apa-apa”. Setelah selesai ber-pindapata, bhikkhu tersebut pulang kembali ke Viharanya.

    Demikian pula pemburu Koka yang telah berkeliling di hutan dan tidak memperoleh satupun binatang buruannya. Nampak kekesalan menyelimuti wajahnya sambil keluar dari hutan, untuk pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan pulang si pemburu bertemu kembali dengan bhikkhu yang dijumpainya sebelum masuk ke hutan. Melihat bhikkhu itu lagi, dia menjadi amat marah dan pikirnya: “Tadi pagi saya bertemu dengan si pembawa ketidakberuntungan ini, lalu saya pergi ke hutan untuk berburu binatang, ternyata saya tidak mendapatkan apa-apa. Sekarang tiba-tiba dia muncul lagi di hadapan saya, kemudian muncullah niat jahatnya dengan menyuruh anjing-anjingnya untuk memakan bhikkhu tersebut”

    Pemburu Koka segera memerintahkan anjing-anjingnya untuk menyerang bhikkhu itu. Bhikkhu tersebut memohon belas kasihannya dengan berkata, “Jangan, jangan lepaskan anjing-anjing itu”. Pemburu Koka menjawab: “Hai, Orang pembawa ketidakberuntungan, pagi hari ini saya bertemu denganmu, dan karena kamu pembawa ketidakberuntungan. Saya tidak mendapatkan satu binatang buruan apapun di hutan. Sekarang kamu muncul lagi di hadapan mata saya, biarlah anjing-anjing saya memakanmu, hanya itu yang ingin saya katakan”. Setelah berkata demikian, tanpa banyak bicara lagi pemburu Koka segera melepas anjing-anjingnya dan memerintahkan untuk menyerang bhikkhu tersebut. Bhikkhu tersebut segera berlari karena dikejar-kejar anjing. Akhirnya bhikkhu itu memanjat pohon, dan duduk di cabang pohon. Anjing-anjing itu tetap memburunya, menggonggong dan menggeram-geram di bawah pohon, bersiap-siap untuk menerkam bhikkhu tersebut. Pemburu Koka yang mengikuti anjingnya, berdiri di bawah pohon sambil berkata: “Kamu pikir kamu dapat melepaskan diri dari cengkeraman saya dengan naik ke pohon itu?”. 

    Belum puas dengan ulah yang dibuatnya, timbullah niat jahat yang lain, dia ingin memanah kaki bhikkhu. Kemudian, pemburu Koka segera memanah kaki bhikkhu yang tergantung itu dengan anak panahnya. 

    Bhikkhu tersebut sekali lagi memohon: “Jangan panah saya, Saudara”. Pemburu Koka tidak memperdulikan permohonan bhikkhu itu, ia tetap memanah kaki sang bhikkhu itu. Semakin banyak anak panah menembus salah satu kaki sang bikkhu. Kemudian, bhikkhu tersebut menarik kakinya yang terluka, dan membiarkan kaki yang satunyatetap tergantung. Tetapi, anak panah terus menerus menembus kakinya yang masih tergantung. Karena kesakitan, ia lalu menarik kakinya yang masih tergantung ke atas. Pemburu Koka tetap terus memanah kedua kaki bhikkhu tersebut. Akhirnya bhikkhu itu merasakan badannya panas seperti terbakar. Karena ia merasa amat sakit, ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya. Dia tidak tahu dan tidak menyadari ketika jubah yang dikenakannya jatuh. Ternyata jubahnya jatuh menutupi seluruh tubuh Pemburu Koka. “Bhikkhu itu jatuh dari pohon”, pikir anjing-anjing itu. Segera dengan garangnya anjinganjing itu menyerang orang yang berada di bawah jubah, menyeret, merobek-robek dan memakan, yang ternyata majikannya sendiri. Akhirnya, yang tersisa tinggal tulangtulangnya saja. Setelah itu, anjing-anjing itu duduk diam, menunggu perintah selanjutnya. Tidak lama kemudian banyak anak panah berjatuhan dari atas pohon dan mengenai anjing-anjing tersebut. Pada saat itu anjing-anjing itu melihat bhikkhu yang mereka kejar masih berada di atas pohon, mereka lalu berpikir, “Wah, kita memakan majikan sendiri!”. 

    Menyadari hal tersebut, anjing-anjing itu lari tunggang langgang. Bhikkhu itu amat kaget dan bingung melihat apa yang terjadi di bawah pohon, lalu ia berpikir, “Pemburu itu kehilangan nyawanya karena jubah saya jatuh dan menutupinya, apakah kesucian saya tidak ternoda?”. Pikiran bhikkhu itu berkecamuk, kemudian ia turun dari pohon. Bikkhu pergi menemui Sang Buddha dan menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya. Bhikkhu itu mengatakan bahwa “semua itu terjadi karena jubahnya”, sehingga pemburu itu kehilangan nyawanya, apakah kesucian saya tidak ternoda? Apakah saya tetap dapat mempertahankan kesucian saya?” 

 

    Setelah Sang Buddha mendengar seluruh cerita itu, Beliau menjawab: “Bhikkhu, kesucianmu tidak ternoda, kamu tetap suci, barang siapa yang berniat melukai orang lain yang tidak bersalah, ia akan menerima hukumannya. Lagi pula, hal seperti ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan. Pada kehidupannya yang terdahulu, ia juga berniat melukai orang yang tidak bersalah dan menerima hukumannya”. Sang Buddha lalu bercerita: “Pada kehidupannya yang terdahulu, ia adalah seorang tabib yang berkeliling desa untuk mencari pasien. Pada hari itu, tidak ada seorang pasien pun yang datang padanya. Rasa lapar yang menyelimuti perut akhirnya membuatnya keluar dari desa. Di pintu gerbang desa, ia melihat anak-anak yang sedang bermain. Segera timbul pikiran jahatnya, “Saya akan membawa seekor ular dan akan saya biarkan ular itu menggigit salah satu anak itu, sehinga ia terluka. Lalu saya obati, sehingga saya memperoleh uang untuk membeli makanan.” Lalu ia mencari seekor ular dan meletakkannya di lubang pohon dekat tempat anak-anak bermain. Kepala ular menyembul keluar dari lubang pohon, lalu ia berkata kepada anak-anak: “Anak-anak, lihatlah ada seekor burung Salika, tangkaplah.” Salah seorang anak segera memegang leher ular itu erat-erat, dan menariknya keluar dari lubang pohon. Tetapi, ketika ia melihat yang dipegangnya itu ternyata seekor ular, ia menjerit ketakutan, berteriak-teriak lalu melempar ular itu ke atas. Ternyata ular itu jatuhtepat di atas kepala tabib itu. Segera ular itu membelit leher si tabib dan menggigitnya keras-keras, akhirnya tabib itu mati. “Jadi”, kata Sang Buddha, “dalam kehidupannya yang terdahulu, pemburu Koka berniat melukai orang yang tidak bersalah dan ia memperoleh hukumannya”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair: 

“Barang siapa yang berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci dan orang yang tidak bersalah maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu bagaikan debu yang dilempar melawan angin”. (Dhammapada 10)

 

😎 Menanya
     Setelah amati video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang Seorang Pemburu yang Dimangsa oleh Anjing-anjingnya Sendiri dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas! 
Pendapatku:    
1. ......................................
2. ......................................
3. ......................................
(silahkan tambah pendapatmu)
 
Pertanyaanku:    
1. ...................................... ?
2. ...................................... ?
3. ...................................... ?  
(silahkan tambah pertanyaanmu)
😎 Mengumpulkan Data
Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
  1. Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
  2. Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
  3. Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
  4. Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
  5. Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
😎 Mengolah Data
    Ayo kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
😎 Menalar
     Ayo, kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat yang jelas.

😎 Mengkomunikasikan
 Ayo, ceritakan perumpaan kayu dan gitar yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu!
Sampaikan pendapatmu:
1. Apa yang menarik perhatianmu?
2. Apa yang kamu lihat?
3. Apa yang bisa kamu lakukan?4. Keteladanan apa yang perlu ditiru?
5. Apa pesan moral yang kamu dapat?
😎 Penutup

  ⏩⏩⏩⏩  TUGAS  ⏪⏪⏪⏪ silahkan mengerjakan tugas

Demikian materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun, jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari virus corona atau covid19.
Selamat beristirahat, jangan lupa belajar


Tugas Penilaian Harian Klik

πŸ”ΌDISINI


JANGAN LUPA TULIS NAMA DI KOMENTAR UNTUK DAFTAR HADIR DALAM PELAJARAN INI DAN KLIK JUGA DAFTAR HADIR DI GOOGLE FORM

Daftar Hadir Siswa Klik
πŸ”ΌDISINI

Wednesday, 5 August 2020

MEMAKNAI KISAH ORANG YANG TERKENA PANAH BERACUN

Pembelajaran 4 Memaknai kisah orang yang terkena panah beracun

Tugas Belajar di Rumah

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021



    Cerita Perumpamaan orang yang terluka terkena panah beracun, diambil dari Kitab Suci Tipitaka” Majhima Nikaya I : 63, dari Culamalunkya Sutta, 63. Dijelaskan dalam cerita tentang apa yang seharusnya orang lakukan, hal-hal yang lebih penting, dan tidak mengembangkan pada pikiran-pikiran yang tidak perlu.

    Cerita perumpamaan tersebut untuk mengingatkan kembali Bhikkhu Mālunkyāputta yang pada saat itu, merasa terbebani pikirannya, sehingga konsentrasinya terganggu. Sesungguhnya apa yang dipikirkan oleh Bhikkhu Mālunkyāputta tidak perlu terjadi. Karena pikiran demikian tidak bermanfaat.

    Dalam cerita Perumpamaan Orang Terkena Panah Beracun ini yang lebih diutamakan adalah bahwa kehidupan penuh dengan penderitaan. Di dalam kehidupan terdapat kelahiran, tumbuh dan berkembang, lalu menjadi tua, sakit, dan mati. Dalam ajarannya, Buddha lebih mengutamakan tentang bagaimana mengatasi hal tersebut. Ingat tujuan akhir umat Buddha adalah Nibbana.

    Jadi, akan sangat baik jika kita sebagai siswa Buddha, mengutamakan yang lebih penting dan bermanfaat terlebih dahulu, dan bukan memikirkan segala sesuatu yang tidak perlu. Misalnya, yang seharusnya kita lakukan di sekolah adalah belajar dengan tekun dan giat, dan tidak berpikir tentang masa liburan yang belum terjadi


😎 Menanya
     Setelah amati video yang sudah dijelaskan dan baca cerita tentang memaknai kisah orang yang terkena panah beracun dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas! 
Pendapatku:    
1. ......................................
2. ......................................
3. ......................................
(silahkan tambah pendapatmu)
 
Pertanyaanku:    
1. ...................................... ?
2. ...................................... ?
3. ...................................... ?  
(silahkan tambah pertanyaanmu)
😎 Mengumpulkan Data
Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:
  1. Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
  2. Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
  3. Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
  4. Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
  5. Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.
😎 Mengolah Data
    Ayo kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.
😎 Menalar
     Ayo, kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat yang jelas.

😎 Mengkomunikasikan
 Ayo, ceritakan memaknai kisah orang yang terkena panah beracun yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu!
Sampaikan pendapatmu:
1. Apa yang menarik perhatianmu?
2. Apa yang kamu lihat?
3. Apa yang bisa kamu lakukan?4. Keteladanan apa yang perlu ditiru?
5. Apa pesan moral yang kamu dapat?

😎 Penutup

  ⏩⏩⏩⏩  TUGAS  ⏪⏪⏪⏪ silahkan mengerjakan tugas

Demikian materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun, jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari virus corona atau covid19.
Selamat beristirahat, jangan lupa belajar


Tugas Penilaian Harian Klik

DISINI


JANGAN LUPA TULIS NAMA DI KOMENTAR UNTUK DAFTAR HADIR DALAM PELAJARAN INI DAN KLIK JUGA DAFTAR HADIR DI GOOGLE FORM

Daftar Hadir Siswa Klik
πŸ”ΌDISINI


Thursday, 30 July 2020

Kisah Orang Yang Terkena Panah Beracun

Pembelajaran 3 Kisah Orang Yang Terkena Panah Beracun

Tugas Belajar di Rumah

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Kelas 6 Semester Ganjil 2020/2021


A. Kisah Orang yang Terkena Panah Beracun

    Khotbah ini disampaikan berkenaan dengan pertanyaan Mālunkyāputta kepada Sang Buddha.
    Diceritakan pada suatu ketika Sang Bhagavā berada di Jetava, taman milik Anathapindika, Savathi. Di saat Yang Mulia Mālunkyāputta sedang sendirian dalam meditasi, buah pikiran berikut ini muncul dalam pikirannya:

• ‘Dunia adalah abadi’ dan ‘dunia adalah tidak abadi’;

• ‘Dunia adalah terbatas’ dan ‘dunia adalah tidak terbatas’;

• ‘Jiwa adalah sama dengan badan’ dan ‘jiwa adalah satu hal dan badan adalah hal lainnya’;

• ‘Sang Tathāgata ada setelah kematian’ dan ‘Sang Tathāgata tidak ada setelah kematian’; dan

• ‘Sang Tathāgata ada juga tidak ada setelah kematian’ dan ‘Sang Tathāgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian.’


    Apa yang dipikirkan oleh Yang Mulia Mālunkyāputta, telah dibiarkan tidak dijelaskan oleh
Sang Bhagavā.

    Atas kondisi tersebut, Yang Mulia Mālunkyāputta berkeinginan mendatangi Sang Bhagavā dan menanyakan kepada-Nya makna dari hal tersebut. Jika Ia menyatakan kepadaku maka aku akan menjalani kehidupan suci di bawah Beliau; jika Ia tidak menyatakan hal-hal ini kepadaku, maka aku akan meninggalkan latihan ini dan kembali kepada kehidupan rendah.”


    Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Mālunkyāputta bangkit dari meditasinya dan menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau:

    Yang Mulia, sewaktu aku sendirian dalam meditasi, buah pikiran berikut ini muncul dalam pikiranku: ‘Pandangan-pandangan spekulatif ini telah dibiarkan tidak dijelaskan oleh Sang Bhagavā. Jika Sang Bhagavā tidak menyatakan hal-hal ini kepadaku, maka aku akan meninggalkan latihan ini dan kembali kepada kehidupan rendah.

    Selanjutnya Yang Mulia Mālunkyāputta menanyakan dan meminta penjelasan kepada Sang Bhagavā, tentang buah pikirannya yang muncul di saat meditasinya. Seperti “Apakah alam semesta ini kekal abadi. Apakah alam semesta ini tidak kekal abadi. Apakah alam semesta ini berbatas. Apakah alam semesta ini tidak berbatas. Apakah jiwa itu sama dengan badan. Apakah jiwa itu lain dengan badan. Apakah Sang Tathagata ada sesudah kematian. Apakah Sang Tathagata ada dan tidak ada sesudah kematian. Apakah Sang Tathagata tidak ada dan bukan tidak ada sesudah kematian?”

     Selanjutnya, Sang Bhagavā menanyakan apakah Ia pernah memberikan janji kepadanya, untuk menjelaskan itu semua, agar menjalani kehidupan suci di bawah Sang Buddha? Yang Mulia Mālunkyāputta menjawab, “Tidak, Yang Mulia.”

    Untuk memberikan pencerahan Sang Bhagavā membuat cerita perumpamaan sebagai berikut: “Misalkan, Mālunkyāputta, seseorang yang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah untuk merawatnya.

    Orang itu berkata: ‘aku tidak akan membiarkan ahli bedah ini mencabut anak panah ini hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku adalah seorang mulia atau seorang brahmana atau seorang pedagang atau seorang pekerja.’ Dan ia mengatakan: ”aku tidak akan membiarkan ahli bedah ini mencabut anak panah ini hingga aku mengetahui nama dan suku dari orang yang melukaiku. Hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku tinggi; pendek; atau sedang. Hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku berkulit gelap atau cokelat atau keemasan. Hingga aku mengetahui apakah orang yang melukaiku hidup di desa; kota; pemukiman atau apa. Hingga aku mengetahui apakah busur yang melukaiku adalah sebuah busur panjang atau busur silang. Hingga aku mengetahui apakah tali busur yang melukaiku terbuat dari serat atau buluh atau urat atau rami atau kulit kayu. Hingga aku mengetahui apakah tangkai anak panah itu adalah alami atau buatan. Hingga aku mengetahui dari bulu apakah tangkai anak panah yang melukaiku itu dipasangkan, apakah dari burung nasar; burung bangau; burung elang; burung merak; atau burung jangkung. Hingga aku mengetahui dengan urat jenis apakah tangkai anak panah itu diikat. Apakah urat sapi; kerbau; rusa; atau monyet. Hingga aku mengetahui jenis mata anak panah apakah yang melukaiku. Apakah berpaku; berpisau; melengkung; berduri; atau bergigi-anak-sapi; atau berbentuk-tombak.“ Semua ini masih tetap tidak akan diketahui oleh orang itu dan sementara itu orang itu akan mati. Demikian pula, Mālunkyāputta, jika siapapun mengatakan sebagai berikut: ‘aku tidak akan menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā hingga Sang Bhagavā menyatakan kepadaku “dunia adalah abadi” atau “Sang Tathāgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian,” hal itu masih tetap tidak akan dinyatakan oleh Sang Bhagavā dan sementara itu orang itu akan mati.


    Sesudah itu Sang Buddha menerangkan kepada Mālunkyāputta bahwa menuntut penghidupan suci tidaklah tergantung kepada hal-hal tersebut di atas. Pandangan apa pun yang dimiliki orang mengenai soal-soal yang dikemukakannya di atas, ketahuilah, tetap akan ada kelahiran, usia tua, kelapukan, kematian, kesedihan, keluh-kesah, kesakitan, kekecewaan, kemalangan; sedangkan permusuhannya dapat kita lakukan dalam kehidupan
ini juga. “Dari itu Mālunkyāputta, ingatlah baik-baik tentang apa yang Aku terangkan dan jangan hiraukan apa yang Aku tidak terangkan. Apakah hal-hal yang Aku tidak terangkan?

“Mengapakah Aku membiarkan hal-hal itu tidak dinyatakan? Karena tidak bermanfaat, bukan bagian dari dasar-dasar kehidupan suci, tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. Itulah sebabnya mengapa Aku membiarkannya tidak dinyatakan”.
    “Dan apakah yang telah Kunyatakan? ‘Ini adalah penderitaan, telah Aku nyatakan. Ini adalah asal-mula penderitaan, telah Aku nyatakan. Ini adalah lenyapnya penderitaan, telah Aku nyatakan. Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan, telah Aku nyatakan.

    “Mengapakah Aku menyatakannya? Karena bermanfaat, menjadi bagian dari dasar dasar kehidupan suci, menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. Itulah sebabnya mengapa Aku menyatakannya. “Oleh karena itu, Mālunkyāputta, ingatlah apa yang Kubiarkan tidak dinyatakan sebagai tidak dinyatakan, dan ingatlah apa yang telah dinyatakan oleh-Ku sebagai dinyatakan.” Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Mālunkyāputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


πŸ‘‰Menanya

Setelah amati video dan baca cerita tentang kisah orang yang terkena panah beracun dengan cermat kemudian ungkapkan pendapat serta pertanyaanmu hubungan kedua cerita diatas!

Pendapatku:   

1. ......................................

2. ......................................

3. ......................................

(silahkan tambah pendapatmu)

 

Pertanyaanku:  

1. ...................................... ?

2. ...................................... ?

3. ...................................... ?

(silahkan tambah pertanyaanmu)

😎 Mengumpulkan Data

Berdasarkan hasil bacaan dan pengamatanmu terhadap gambar dan teks bacaan diatas, diskusikan bersama orang tuamu untuk:Mencatat informasi penting apa saja yang kamu dapatkan dalam gambar/video dan bacaan di atas.
Buatlah pertanyaan mencari tahu hal-hal yang masih belum jelas, atau hal-hal yang belum kamu pahami atas gambar dan teks bacaan di atas.
Carilah informasi dari buku dan sumber lainnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah kamu buat.
Satukan pendapat dan jawaban kamu menjadi sebuah kesimpulan.
Sampaikan hasil diskusi di depan kelas pada pelajaran saat masuk kelak.

😎 Mengolah Data

Ayo kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya dengan kalimat yang jelas.

😎 Menalar

 Ayo, kelompokkan semua jawaban dan informasi yang kamu dapat. Hati-hati apakah jawaban yang kamu peroleh sudah sesuai dengan tujuan pertanyaanmu atau belum. Terakhir buatlah kesimpulannya di bawah ini dengan kalimat yang jelas.

 

😎 Mengkomunikasikan

 Ayo, ceritakan kisah orang yang terkena panah beracun yang pernah terjadi di lingkungan sekitarmu!

Sampaikan pendapatmu:

1. Apa yang menarik perhatianmu?

2. Apa yang kamu lihat?

3. Apa yang bisa kamu lakukan?

4. Keteladanan apa yang perlu ditiru?

5. Apa pesan moral yang kamu dapat?

😎 Penutup

Pada pertemuan pelajaran agama Buddha besok ada perubahan jadwal, untuk pembelajaran pendidikan agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 6 hari Rabu, 6 Agustus 2020,

Demikian materi pembelajaran hari ini ingat belajarlah di rumah dengan tekun, jangan keluar rumah jika tidak mendesak dan sangat penting, hindari kontak dengan orang asing, jaga kebersihan, dan jangan lupa cuci tangan dengan bersih sebelum makan, jaga kebersihan, sehingga selamat dari virus corona atau covid19.

Selamat beristirahat, jangan lupa belajar


⏩⏩⏩⏩  TUGAS  ⏪⏪⏪⏪

silahkan mengerjakan tugas

Tugas Evaluasi pembelajaran klik


JANGAN LUPA TULIS NAMA DI KOMENTAR UNTUK DAFTAR HADIR DALAM PELAJARAN INI DAN KLIK JUGA DAFTAR HADIR DI GOOGLE FORM

PRESENSI KLIK

Chat

CHATT